Nama Resmi : Kabupaten Malang
Ibukota : Kepanjen
Bupati : Drs. H. Rendra Kresna, BcKU., SH, MM, MPM.
Wakil Bupati : Drs. H. Muhammad Sanusi, MM.
Luas Wilayah : 3.530,65 km²
Jumlah Penduduk : 3,092,714 jiwa
Wilayah Administrasi : Kecamatan : 33
Alamat Kantor : Jl. K.H. Agus Salim No. 7 Malang
T : (0341) 357694. 392024
F : (0341) 357694. 326791. 392024
W : http://www.malangkab.go.id
Sejarah
Ketika
kerajaan Singhasari dibawah kepemimpinan Akuwu Tunggul Ametung yang
beristrikan Ken Dedes, kerajaan itu dibawah kekuasaan Kerajaan Kediri.
Pusat pemerintahan Singhasari saat itu berada di Tumapel. Baru setelah
muncul Ken Arok yang kemudian membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan
menikahi Ken Dedes, pusat kerajaan berpindah ke Malang , setelah
berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri. Kediri saat itu jatuh ke tangan
Singhasari dan turun statusnya menjadi kadipaten. Sementara Ken Arok
mengangkat dirinya sebagai raja yang bergelar Prabu Kertarajasa
Jayawardhana atau Dhandang Gendhis (1185 - 1222).
Kerajaan ini mengalami
jatuh bangun. Semasa kejayaan Mataram, kerajaan-kerajaan di Malang jatuh
ke tangan Mataram, seperti halnya Kerajaan Majapahit. Sementara
pemerintahan pun berpindah ke Demak disertai masuknya agama Islam yang
dibawa oleh Wali Songo. Malang saat itu berada di bawah pemerintahan
Adipati Ronggo Tohjiwo dan hanya berstatus kadipaten. Pada masa-masa
keruntuhan itu, menurut Folklore, muncul pahlawan legendaris Raden Panji
Pulongjiwo. Ia tertangkap prajurit Mataram di Desa Panggungrejo yang
kini disebut Kepanjen (Kepanji-an). Hancurnya kota Malang saat itu dikenal sebagai Malang Kutho Bedhah.
Bukti-bukti lain yang hingga sekarang merupakan saksi bisu adalah nama-nama desa seperti Kanjeron, Balandit, Turen, Polowijen, Ketindan, Ngantang dan Mandaraka. Peninggalan sejarah berupa candi-candi merupakan bukti konkrit seperti :
Candi Kidal di Desa Kidal Kec. Tumpang yang dikenal sebagai tempat penyimpanan jenazah Anusapati.
Candi Kidal
Candi Singhasari di Kec. Singosari sebagai penyimpanan abu jenazah Kertanegara.
Candi Singhasari
Candi Jago / Jajaghu di Kec. Tumpang merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Wisnuwardhana.
Candi Jago
Pada zaman VOC,
Malang merupakan tempat strategis sebagai basis perlawanan seperti
halnya perlawanan Trunojoyo (1674 - 1680) terhadap Mataram yang dibantu
VOC. Menurut kisah, Trunojoyo tertangkap di Ngantang. Awal abad XIX
ketika pemerintahan dipimpin oleh Gubernur Jenderal, Malang seperti
halnya daerah-daerah di nusantara lainnya, dipimpin oleh Bupati.
Bupati Malang I adalah
Raden Tumenggung Notodiningrat I yang diangkat oleh pemerintah Hindia
Belanda berdasarkan resolusi Gubernur Jenderal 9 Mei 1820 Nomor 8
Staatblad 1819 Nomor 16. Kabupaten Malang merupakan wilayah yang
strategis pada masa pemerintahan kerajaan- kerajaan. Bukti-bukti yang
lain, seperti beberapa prasasti yang ditemukan menunjukkan daerah ini
telah ada sejak abad VIII dalam bentuk Kerajaan Singhasari dan beberapa
kerajaan kecil lainnya seperti Kerajaan Kanjuruhan seperti yang tertulis
dalam Prasasti Dinoyo. Prasasti itu menyebutkan peresmian tempat suci
pada hari Jum`at Legi tanggal 1 Margasirsa 682 Saka, yang bila
diperhitungkan berdasarkan kalender kabisat jatuh pada tanggal 28 Nopember 760.
Tanggal inilah yang dijadikan patokan hari jadi Kabupaten Malang. Sejak
tahun 1984 di Pendopo Kabupaten Malang ditampilkan upacara Kerajaan
Kanjuruhan, lengkap berpakaian adat zaman itu, sedangkan para hadirin
dianjurkan berpakaian khas daerah Malang sebagaimana ditetapkan.