Patorani Galesong
Pada abad ke XXVI Masehi di Kerajaan Galesong diberangkatkan para Tu Barania untuk berangkat berperang ke Pulau Jawa membantu Kerajaan Trunojoyo melawan penjajah Belanda. Pada saat itu yang memimpin pasukan Galesong adalah Karaeng Galesong. Dalam perjuangan, banyak Tu Barani yang gugur di medan perang, sisa pasukan yang kembali ke Galesong menaiki Kapal. Di tengah perjalanan kapal mereka dikelilingi oleh ikan yang sangat banyak yang terbang di permukaan air. Kejadian tersebut menarik perhatian para Tu Barania. Mereka lalu berpikir dan mencari cara untuk dapat menangkap ikan sebanyak itu.
Setibanya mereka di dataran Galesong, mereka mengabarkan kejadian tersebut dan menyampaikan keinginan kepada orang-orang tua di Galesong. Hasil pertemuan menyepakati untuk membuat alat penangkap ikan berupa jarring dan bamboo yang disebut Pakkaja. Semenjak itu, penduduk Galesong banyak membuat Pakkaja, dan mereka menangkap ikan terbang tersebut. Dari kegiatan menangkap ikan terbang itu, yang berhasil memperoleh banyak ikan adalah sisa-sisa Tu Barani Galesong. Oleh sebab itu, kegiatan menangkap ikan ini dinamai Patorani yang berasal dari kata Tu Barani.
Dewasa ini, para nelayan lebih mengutamakan mencari/mengumpulkan telur ikan terbang yang bernilai jual tinggi. Mereka mencari telur ikan terbang sampai ke perairan yang jauh, dengn menggunakan metoda dan peralatan tradisional.
Prosesi Ritual Budaya Patorani :
- Accini Allo adalah proses melihat hari baik untuk turun melaut yang dilakukan oleh para Sawi dan Punggawa untuk meminta petunjuk kepada Pinati.
- Abbeso Biseang merupakan proses menarik perahu dari pantai ke permukaan daratan yang dilakukan oleh Sawi.
- Annisi Biseang dilakukan selam 6 hari dan dilakukakan oleh 5 orang untuk setiap perahu. Adapun prosesi yang mengikutinya adalah menyiapkan:Umba-umba, Lawara Kadea, Kapasa, Minyak Biseang, Kayu Barugallang
- Apparada yaitu proses mengecat perahu untuk memperbaharui warna yang telah pudar. Prosesinya memakan waktu 3 hari sampai kering.
- Adengka Paleo (Allepa) memakan waktu 2 hari dan dilakukan oleh laki-laki sambil menyanyikan lagu utama (Adandio). Bahan yang digunakan adalah kapur yang ditumbuk di atas lesung besar dicampur dengan minyak goring sampai jadi adonan. Prosesi ini diiringi oleh nyanyian-nyanyian.
- Assossoro Biseang, kegiatan ini memakan waktu seharian yang dilakukan oleh para Sawi.
- Angngalle Leko Kaluku, Prosesi ini memakan waktu 2 hari mulai dari pengambilan daun kelapa hingga perakitannya untuk siap pakai (tempat bertelur ikan).
- Appanai Pakkajang, Prosesi ini adalah menaikan atau mengisi perahu dengan segala macam perbekalan yang akan digunakan dalam menangkap telur ikan.
- Appanaung Ri Jene, Prosesi ini di lakukan oleh banyak orang untuk mendorong perahu ke laut sambil menyanyikan lagu-lagu, utamanya lagu hella-hella. Semua prosesi di atas ini dilengkapi dengan padoangan, jajakkang yang isinya gula merah, kelapa, beras, pisang empat sisir, lilin, telur ayam, ayam dewasa satu pasang, umba-umba dan kue- kue lainnya.
- Accaru-Caru(Appassili), merupakan prosesi menghanyutkan barang jajakkang ke laut yang berisi antara lain leko, rappo, pa’leo, berasa, bente, bayao jangan sipasang, songkolo kebo , dan unti serta lain-lain hasil bumi. Dan acara ini dipimpin oleh Pinati.
- Padongko Parappo, itu ditempatkan pada daerah Pulau Sanrobengi, Rambaka, Katingan, Tataka Sanrobengi, isi parapponya adalah sama dengan accaru-caru.
- Angngalle Gosse, Memakan waktu sekitar setengah jam dan dapat dilakukan sekaligus sambil appadongko parappo. Gosse adalah sejenis tumbuhan rumput laut.
- Allappasa, Proes ini adalah pelepasan atau pemberangkatan para nelayan menuju ke lautan yang dilepas dengan lambaian tangan para keluarga nelayan menuju ke Pulau Sanrobengi, yang selanjutnya menunggu waktu baik (pagi, siang atau malam) untuk menuju lautan.
- Appadongko Parappo Ri Bayanga, Prosesi ini di lakukan pada saat perahu keluar ke laut di daerah perbatasan Jene Cinong Na Gauka atau batas kedalaman.
http://www.takalarkab.go.id