beritadunesia-logo
Luvi-Creations
  

Perhiasan Karya Para Seniman Bali di Butik-butik Mewah Dunia

Selasa,2017-01-17,11:18:17
John Hardy adalah salah satu merek perhiasan terpopuler dan termahal di dunia. Tangan para seniman Bali berperan di baliknya.
Berita Terbaru
(Berita Dunesia)

UBUD - Merek perhiasan John Hardy muncul ketika John Hardy, seorang seniman asal Kanada, menyambangi Bali pada 1970-an. Di Pulau Dewata ia menemukan ketenangan dan inspirasi, terutama dari para seniman yang membuat perhiasan khas lokal menggunakan tangan.

John Hardy langsung jatuh cinta pada Bali. Ia kemudian menetap di Ubud, dan mengajak beberapa seniman untuk membuat perhiasan handmade kualitas tinggi. Hasilnya adalah deretan perhiasan yang exceptional, diekspor ke beberapa negara, dipajang di butik-butik mewah kelas dunia.

"(Perhiasan) John Hardy dijual di beberapa toko mewah seperti 5th Avenue di New York, Hongkong, Rusia, juga negara-negara Eropa," tutur Director of Heritage, Hospitality, and Public Affairs John Hardy, Polly Purser saat menyambangi lokasi workshop John Hardy di Ubud, Bali, beberapa waktu lalu.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRITempat workshop John Hardy berlokasi di Br Baturning No 1, Desa Mambal, Abiansemal, Badung 80352.
Tempat workshop tersebut berlokasi di Banjar Baturning No 1, Desa Mambal, Abiansemal, Badung 80352. Di dalam area dua hektar, wisatawan bisa melihat tempat para seniman mengerjakan semua perhiasan berkualitas tinggi di bawah label John Hardy.
 

"Desain kami terinspirasi oleh alam, juga hewan-hewan mistis dan legenda," tambah Polly.

Benar saja. Begitu memasuki tempat workshop, Anda akan disambut oleh ruangan dengan instalasi yang memajang deretan perhiasan khas John Hardy. Gelang, kalung, anting, cincin, dan berbagai perhiasan lainnya sungguh memikat mata. Gelang perak dengan ujung berbentuk kepala naga adalah salah satu trademark John Hardy.

Saya kemudian diajak berkeliling ke beberapa ruangan. Pertama adalah Design Room, yang dikelilingi kolam serta hijaunya sawah. Ini ditujukan agar para desainer bisa menggambar tanpa tekanan.

"Di sini kami benar-benar memikirkan kesehatan dan kenyamanan pekerja. Di balik hasil produk yang baik, ada kesenangan karyawan yang tinggi," tutur Polly.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI
Pembuatan desain semua produk John Hardy sama sekali tidak menggunakan komputer. Penggambaran dan pewarnaan dilakukan dengan tangan. Gambar tersebut dibuat di atas kertas dengan skala 1:1, alias sama seperti ukuran aslinya.
Salah satu buktinya adalah sebuah meja panjang di dekat Design Room. Long Table, begitu para pekerja menyebutnya, menjadi tempat makan siang bersama para pekerja di John Hardy.
 

"Ada sekitar 700 pekerja di sini. Kalaupun mereka ketinggalan makan siang, ada afternoon tea tiap sore. Semua bahan makanan pun kami ambil dari tanah kami di sini," papar Polly.

Pembuatan desain semua produk John Hardy sama sekali tidak menggunakan komputer. Penggambaran dan pewarnaan dilakukan dengan tangan. Gambar tersebut dibuat di atas kertas dengan skala 1:1, alias sama seperti ukuran aslinya.

Polly mengajak saya masuk ke beberapa ruangan berikutnya. Ada ruangan untuk waxing, alias membuat replika model produk menggunakan lilin. Model dari lilin tersebut kemudian dimasukkan ke dalam adonan semacam semen. Hasilnya adalah semen dengan cetakan desain produk yang diinginkan.

"Barulah material seperti emas atau perak dimasukkan ke dalam cetakan ini," tutur Polly.

Proses membuat perhiasan ini membutuhkan waktu yang tak sebentar. Polly menuturkan, mulai dari proses menggambar hingga produk siap dipamerkan di etalase, butuh waktu sekitar 1-2 tahun. Hanya untuk satu jenis produk. 

Tak heran, harga untuk satu produk perhiasan John Hardy sama sekali tak murah.

"Harganya mulai dari 750 dollar AS sampai 60.000 dollar AS untuk satu produk," tambah Polly.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI
Mulai dari proses menggambar hingga produk siap dipamerkan di etalase, butuh waktu sekitar 1-2 tahun. Hanya untuk satu jenis produk.
Bagaimana jika orang Indonesia tertarik dan ingin membeli produk John Hardy? Selain menyambangi langsung lokasi workshop di Ubud, John Hardy juga dijual di Plaza Indonesia (Jakarta) dan The Mulia Hotel Bali selain juga toko Duty Free di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali.
 

Saat menyambangi lokasi workshop di Ubud, wisatawan bisa ikut tur mengelilingi beberapa lokasi pembuatan serta makan siang di Long Table.

Hal terpenting, John Hardy adalah media promosi Indonesia lewat koleksi perhiasan berkualitas tinggi hasil karya seniman Bali. Polly mengatakan, beberapa waktu lalu John Hardy membawa empat seniman dari Indonesia ke New York untuk memeragakan cara membuat perhiasan handmade

"Nama programnya Artisans in Residence, digelar di New York beberapa waktu lalu. Kami membawa beberapa seniman Bali untuk mempromosikan Indonesia, terutama perak dan hasil kerajinan khas lokal," tutup Polly.

Penulis : Sri Anindiati Nursastri
Editor : I Made Asdhiana
Berita Terkait
WIAPEDIA
Fitrafood
REAFO

GFS