beritadunesia-logo
Luvi-Adventure
  

Menelusuri Jejak Sejarah Kota Tua

Senin,2017-09-18,08:59:45
Menara Kudus di kota Kudus, Jawa Tengah
(Berita Dunesia)

SUASANA gerbong 2 kereta Argo Bromo Anggrek rute Jakarta-Surabaya, Jumat malam, terasa semarak oleh kehadiran sejumlah anggota Komunitas Jelajah Budaya.

 

Begitu kereta meninggalkan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, suara canda tawa mulai pecah. Mereka begitu akrab dengan sesama penumpang, bahkan dengan kondektur kereta. Maklum, anggota KJB itu rupanya sering naik kereta itu.

 

Anggota komunitas yang naik Argo Bromo Anggrek sekitar 30 orang. Mereka bagian dari 36 anggota rombongan KJB. Peserta lain naik kereta berbeda tetapi sama-sama turun di Stasiun Tawang, Semarang.

 

Dari Semarang, rombongan yang didominasi perempuan itu menyusuri pesisir pantai utara Jawa menuju Kudus, Rembang, dan Lasem dengan bus pada Sabtu dini hari.

 

Untuk mengikuti perjalanan KJB, peserta membayar Rp 1.050.000 untuk transpor, makan, membayar pemandu wisata, dan penginapan. Biaya itu tak termasuk transpor dari kota asal ke Semarang.

 

Tujuan pertama mereka adalah berkunjung ke Masjid Menara Kudus. Setelah itu ke Museum RA Kartini di Rembang, lalu ke Lasem melihat bangunan kuno yang cantik dan bersejarah. Tempat yang mereka datangi antara lain Omah Candu atau Lawang Ombo, Kelenteng Cu An Kiong, Stasiun Lasem, dan ke perajin batik Lasem yang tersohor.

 

Omah Candu adalah rumah tua berhalaman luas. Tak ada yang mengira di dalam rumah ada lubang yang merupakan bagian dari terowongan untuk menyelundupkan candu. Pada masa penjajahan Belanda di abad ke-19, Lasem diketahui sebagai salah satu kota yang memiliki banyak penggemar candu.

 

Tak hanya lubang untuk menyelundupkan candu, pemilik rumah juga menyediakan tempat untuk mengisap candu.

 

”Kamar ini diperkirakan menjadi tempat mengisap candu,” kata Agik, pemandu wisata dari Pustaka Lasem, kepada anggota KJB tentang kamar di sebelah lubang berdiameter 30 sentimeter.

 

Keberadaan Stasiun Lasem yang sebagian besar bangunannya masih kokoh mencuri perhatian anggota KJB. Stasiun ini dibangun Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij yang membangun jalur kereta api tahun 1881-1991 dari Semarang ke kota seperti Cepu, Pati, Blora, dan Lasem. Sayangnya, Stasiun Lasem sudah tak berfungsi sejak 1989.

 

Dulu, kereta di jalur itu mengangkut tebu, tembakau, kayu jati, dan ikan yang merupakan hasil daerah tersebut. Kini angkutan murah dan cepat tersebut tergusur truk dan bus.

 

Pahami sejarah

Melihat keindahan dan keunikan kota tua di Tanah Air menjadi tujuan perjalanan KJB yang berdiri pada tahun 2007.

 

Komunitas yang beranggotakan lebih dari 7.000 orang itu berdiri di Jakarta. Para anggota berusia mulai dari remaja sampai orang dewasa yang bekerja sebagai pegawai negeri, dosen, dan akuntan.

 

Pendiri komunitas ini sebenarnya tujuh orang, alumni Universitas Indonesia jurusan sejarah, antropologi, dan arkeologi. Seiring perjalanan waktu, enam pendiri sibuk dengan pekerjaannya. Yang tersisa hanya Kartum Setiawan, alumnus jurusan sejarah yang aktif mengurus KJB.

 

”Kami dirikan komunitas ini untuk mengajak masyarakat mengenal dan memahami sejarah bangsa lewat bangunan dan artefak kuno serta budayanya,” tutur Kartum.

 

Ia dan kawan-kawan yang waktu itu masih mahasiswa mengawali langkah dengan mengenalkan Museum Fatahillah dan lainnya di kawasan Kota Tua Jakarta kepada anggota pada 2006.

Kondisi sekarang kantor Stasiun Lasem di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Stasiun ini sejak tahun 1980 tak berfungsi lagi. Bagian atap bangunan merupakan kombinasi atap khas bangunan Tionghoa.(KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO)
Waktu itu belum ada orang mau ke Kota Tua karena akses menuju tempat itu tergolong ribet. Lalu lintas selalu padat sehingga orang takut menyeberang.
  

”Kami sering mengadakan acara jalan-jalan ke Museum Fatahillah sampai Pelabuhan Sunda Kelapa, sekaligus menjadi pemandu,” katanya.

 

Ketika orang mulai banyak berkunjung ke Kota Tua, Kartum dan kawan- kawan beralih berkunjung ke peninggalan sejarah lain, misalnya kawasan pecinan di Jakarta Barat, Pasar Mester Jatinegara, beberapa museum di Jakarta, dan masjid tua.

 

Supaya peserta komunitas bisa melihat dengan cermat setiap obyek, Kartum sering mengajak anggota komunitas berjalan kaki menyusuri obyek-obyek tersebut.

 

Manfaat ganda

Sering kali peserta diajak berjalan kaki sampai lebih dari 5 kilometer menyusuri jejak-jejak sejarah yang tersisa.

 

Alih-alih kapok, mereka justru senang. Anggota pun mulai memberi masukan tentang obyek-obyek yang perlu dikunjungi, baik di daerah Jabodetabek maupun di daerah lain. Kartum kemudian merancang jalan-jalan ke sejumlah tempat.

 

”Pada perayaan Imlek, biasanya kami diajak ke klenteng-klenteng, lalu waktu puasa kami berkunjung ke masjid-masjid tua di Jakarta,” kata Ida Farida, karyawan swasta di Jakarta yang sekitar lima tahun bergabung di KJB.

 

Ida yang sehari-hari bekerja sebagai akuntan juga rajin ikut perjalanan ke luar kota, seperti Cilacap, Malang, Cirebon, dan Lasem. Sejak 2010, KJB meluaskan kunjungan ke bangunan- bangunan tua dan benteng-benteng di sejumlah kota di Pulau Jawa.

 

Belakangan, Kartum juga mengadakan jamuan makan malam di museum. Acara bernama rijsttafel itu menyuguhkan makanan tempo dulu. Dengan membayar Rp 100.000, peserta bisa bersantap sambil menikmati film sejarah dan hiburan musik tempo dulu.

 

Selain itu, ada kunjungan ke tempat penggalian situs Trowulan (Jatim), Karawang (Jabar), dan Pasar Ikan (Jakarta). Kartum ingin anggota KJB merasakan susahnya menggali benda bersejarah.

 

”Dengan melihat dan merasakan sendiri proses ekskavasi, saya berharap mereka lebih menghargai temuan benda bersejarah,” kata pemilik gelar master bidang museum ini.

 

Sekalipun judulnya jalan-jalan, banyak peserta mendapat manfaat ganda dari KJB. ”Kayak belajar sejarah. Di tiap obyek bersejarah, kami mendapat penjelasan rinci dari pemandu yang paham dengan tempat itu,” ujar Ida.

 

Ia berpendapat, cara yang dilakukan KJB itu cocok untuk belajar sejarah. ”Ini menyenangkan dan mudah dimengerti daripada hanya belajar di kelas,” kata Ida.

 

Galuh, anggota staf sebuah kantor perwakilan negara asing di Jakarta, juga mendapat banyak manfaat. ”Aku jadi lebih kenal dengan sejarah Indonesia,” kata Galuh. (Soelastri Soekirno)

 

 

 

EditorI Made Asdhiana 

Berita Terkait
WIAPEDIA
Fitrafood
REAFO
GFS