beritadunesia-logo
Luvi-Adventure
  

Genjot Pariwisata, Ini yang Dibutuhkan Manado

Senin,2017-09-18,10:48:38
Salah satu sisi di Pulau Bunaken, Sulawesi Utara yang tersohor dengan Taman Lautnya yang sangat indah.
(Berita Dunesia)
MANADO - Sektor pariwisata di Sulawesi Utara (Sulut) semakin bersinar. Manado International Conference on Tourism (MICT) yang digelar, menghasilkan kesepakatan bisnis senilai 400 juta dollar AS atau Rp 5,2 triliun.
 

Menpar Arief Yahya menyebut pengembangan destinasi melibatkan atraksi, akses dan amenitas. Di Sulut ketiga-tiganya sudah kritis.

 

Akses udara membutuhkan bandara dengan kapasitas besar, dan pesawat yang lebih banyak daya angkutnya. "Sedangkan amenitas, saat ini sangat kurang hotel di Manado. Atraksi juga harus ditambah agar orang tinggal lebih lama di Sulut," jelas Arief Yahya dalam siaran persnya.

 

Investasi di akses maupun amenitas itu menjadi isu di pariwisata Sulut. Kegiatan ini diprakarsai Badan Koordinasi Penanaman Modal didukung Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, PricewaterhouseCoopers, Broadway Malyan dan International Reseach Development Indonesia. 

 

Kesepakatan tersebut terdiri dari kerja sama bisnis yakni kerja sama investasi antara PMA China dengan perusahaan Indonesia terkait pembangunan di Manado Selatan untuk hotel, apartemen, shopping mall dan diving center senilai 200 juta dollar AS.

Menteri Pariwisata Arief Yahaya berbicara pada Manado International Conference on Tourism (MICT) yang digelar, (ARSIP KEMENPAR)
Berikutnya penyerahan izin perluasan investasi kepada PMA Amerika Serikat terkait akomodasi cottage dan pariwisata di Raja Ampat senilai 200 juta dollar AS.
  

Selain itu, juga ditandatangani kerja sama antara Dalian Maritime University (China) dengan 5 universitas di Indonesia (ITB, Universitas Sam Ratulangi, Politeknik Negeri Manado, Universitas Hasanuddin dan Universitas Negeri Manado).

 

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal  (BKPM) Thomas Lembong mengakui kesepakatan bisnis yang dihasilkan itu merupakan salah satu bukti nyata menggeliatnya investasi sektor pariwisata di Indonesia.

 

"Dua kesepakatan bisnis serta satu kesepakatan terkait dengan pendidikan tersebut merupakan bukti nyata upaya pemerintah untuk meningkatkan investasi di sektor pariwisata dan maritim," ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Sintesa Peninsula.
Peserta Festival Manammi mengelilingi titik kumpul terakhir sambil menunggu petunjuk dari tetua adat untuk menangkap ikan secara bersama-sama. Festival Manammi berlangsung di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.(KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL)
Menurut Thomas, nilai yang dihasilkan oleh kesepakatan bisnis tersebut di luar dari kesepakatan yang dapat diperoleh dalam kegiatan one on one meeting yang hingga kini telah terkonfirmasi diikuti oleh 37 perusahaan dari China, Jepang, Singapura, Australia, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan.

“Dalam forum one on one meeting mereka akan dipertemukan dengan perusahaan maupun pemerintah daerah secara langsung untuk membahas mengenai minat investasi mereka,” katanya.

 

Arief Yahya menjelaskan konektivitas menjadi penting untuk menopang pertumbuhan sektor pariwisata Sulut.

 

“Isu konektivitas menyangkut One Belt One Road yang dicanangkan oleh Presiden Xi Jinping di mana di dalamnya terdapat empat komponen utama yakni kawasan industri, pembangunan kota baru, pembangunan bandara dan pelabuhan baru serta destinasi pariwisata,” lanjutnya.
Turis asing sedang menikmati keindahan Danau Linouw, di Tomohon.(Kompas.com/Ronny Adolof Buol)
Arief menilai potensi konektivitas akan sangat besar apabila dapat dikapitalisasikan dalam suatu proyek investasi bersama baik dengan China maupun dengan investor dari negara-negara lainnya.

“Contohnya untuk rute kapal pesiar bisa dikembangkan dari Bali ke Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, Banggai, Togean, kemudian ke Bunaken, selanjutnya Morotai, Raja Ampat dan terakhir di Tual,” ungkapnya. (*)

 

 

 

EditorI Made Asdhiana 

Berita Terkait
WIAPEDIA
Fitrafood
REAFO
GFS